Jumat, 04 November 2016

Sejarah Asal-Usul Nabi Adam – Manusia Pertama di Muka Bumi


Sejarah mengenai asal-usul nabi Adam yang merupakan manusia pertama yang hidup di muka bumi ini ada di hampir seluruh kitab suci dari semua agama mulai dari Kitab Kejadian milik umat Yahudi, Perjanjian Lama, Buku Mormon, Buku Iqan, hingga al-Qur’an. Menurut mitologi penciptaan Womack dari agama samawi, Adam memang adalah manusia yang pertama kali diciptakan oleh Tuhan. Dalam narasi yang ada pada Kitab Kejadian, Adam diceritakan dibuat oleh Yahmeh-Elohim (Tuhan Yahweh, tuhan Israel) meskipun kata “adam” sendiri mampu merujuk pada manusia pertama atau penciptaan manusia secara umum. Pandangan Gereja Kristen agak sedikit berbeda dalam cara pandang mereka tentang perbuatan Adam yang melanggar aturan Tuhan dimana konsekuensi dari kelalaian tersebut memiliki efek buruk terhadap hidup manusia ke depannya. Dalam ajaran Yahudi dan Kristen, dosa yang ditanggung oleh Adam dan Eve berbeda sementara dalam ajaran Islam, dosa yang mereka tanggung sama. Dalam ajaran Islam juga Adam berhasil mendapatkan maaf dari Tuhan sementara Kekristenan tetap percaya bahwa pemaafan baru terjadi dengan pengorbanan Yesus Kristus. Menurut Agama Baha’I, Islam, dan beberapa cabang Kristen, Adam adalah nabi yang pertama. Berikut mari simak informasi selengkapnya mengenai sejarah nabi adam yang telah Kumpulan Sejarah rangkum dari berbagai sumber.
Sejarah Asal-Usul Nabi Adam – Manusia Pertama di Muka Bumi
Nabi Adam Dalam Kitab Kejadian
Dalam penggunaan kata “Adam” sendiri memiliki berbagai penjelasan yang berbeda-beda. Kata “Adam” bisa digunakan sebagai nama, dan pertama kali digunakan sebagai “Adamu” dan tercatat dalam daftar raja Syria. Penggunaannya sebagai kata benda di bahasa Yahudi berarti “manusia”. Sebenarnya, akar kata ini tidak berasal dari kata yang berarti “manusia” melainkan dari “a-d-m” yang berarti “merah” atau “tampan”. Sebagai kata benda maskulin, “’adam” berarti “orang” atau “manusia” dan jika digunakan dalam konteks kolektif berubah menjadi “ras manusia”. Dalam bahasa Kabalistik, Adam juga berasal dari bahasa Yahudi “Adame” yang berarti “aku menjadi sama” yang pada konteks ini menjadi sama dengan Tuhan yaitu memiliki kebebasan.
Kisah Sejarah Nabi Adam muncul dalam Kitab Permulaan sebagai kata “’adam” yang digunakan dalam berbagai macam arti yang antara lain: kolektif (manusia), individual (seorang laki-laki), tidak spesifik pada jenis kelamin (laki-laki dan perempuan), dan pria. Menurut ensiklopedia Yahudi, penggunaannya dalam Kejadian 1 adalah sebagai kata umum dan dalam Kejadian 2 & 3 penggunaan antara kata umum dan individual bercampur.
Sejarah asal-usul nabi Adam – manusia pertama – pada Kejadian 1 menceritakan tentang bagaimana Elohim (Tuhan) menciptakan manusia yaitu laki-laki dan perempuan dimana nama mereka adalah Adam. Adam yang digunakan pada ayat tersebut bukanlah merujuk hanya kepada nabi Adam, melainkan Adam sebagai manusia secara keseluruhan. Baru pada Kejadian 2 sejarah tentang Nabi Adam disebut secara khusus sebagai nabi Adam yang diciptakan dari debu dan dihembuskan angin kehidupan, membuatnya menjadi makhluk hidup. Baru kemudian Tuhan menempatkan nabi Adam di Taman Eden dan memberinya perintah bahwa seluruh buah dari pohon di tempat itu boleh dimakan kecuali dari pohon pengetahuan kebaikan dan kejahatan. Tuhan kemudian berkata bahwa tidak baik bagi seorang pria sendirian jadi Tuhan mengumpulkan hewan-hewan buas dan diantara itu juga tidak ditemukan penolong yang sesuai, karenannya Tuhan membuat Adam tertidur dan mengambil salah satu tulang rusuknya untuk menciptakan seorang wanita yang diberi nama Eve.
Cerita yang menjelaskan kisah Nabi Adam berlanjut ketika dalam Kejadian 3, diceritakan bahwa Adam dibuang dari Eden. Pada cerita tentang dibuangnya nabi Adam dari Eden, sang wanita dipercaya telah dibohongi oleh sang ular untuk memakan buah pengetahuan yang jelas-jelas menentang aturan dari Tuhan. Tuhan kemudian menanyakan dialog dengan Adam dan Eve menggunakan sebuah pertanyaan retoris yang membuatnya mengakui kesalahannya. Setelah Tuhan menyelesaikan penghakiman akan semua pihak yang terkait dalam kejadian itu, Ia menjatuhkan hukuman kepada mereka. Sejarah Nabi Adam masuk ke dalam bagian baru dimana Adam dan Eve harus bekerja keras untuk pertama kalinya demi mencari makanan. Menurut Kitab Kejadian juga, ia memiliki 3 anak dari Eve yaitu Cain, Abel, dan Seth.
Kisah Nabi Adam di Agama Lain
Dalam sejarah Yahudi, menurut catatan pada rabbi dan Gulungan Laut Mati, Adam ialah seorang manusia yang sempurna sebelum dibuang dari Eden. Menurut cerita rakyat Yahudi, istri pertama Adam bukanlah Eve melainkan Lilith yang meninggalkan Adam karena menolak patuh kepadanya. Lilith pergi dan tidak kembali lagi ke Taman Eden setelah melakukan hubungan intim dengan Samael sang Malaikat.
Dalam Islam, Adam dipercaya sebagai manusia pertama yang diajak berdialog langsung dengan Allah, membuatnya menjadi pemeluk Islam dan nabi yang pertama. Salah satu komentator hadis Islam awal menulis bahwa saat penciptaan Adam, Allah mengirim Jibril dan Mika’il untuk mengambil tanah dari Bumi dimana Bumi menolak karena Bumi mengancam akan mengadu pada Allah jika kedua malaikat tersebut menghancurkannya, jadi para Malaikat kembali dengan tangan kosong. Malaikat yang selanjutnya dikirim oleh Allah ialah Izrail yang kemudian mengambil tanah dari berbagai macam daerah, menjelaskan mengapa banyak bentuk dari manusia yang berbeda. Menurut penulisnya, Adam masih belum bernyawa hingga 40 hari setelah Allah meniupkan hidup kepadanya, dan ketika mulai hidup, Adam ditunjuk sebagai pemimpin dari makhluk-makhluk yang lebih rendah, dimana Adam kemudian menamai mereka satu persatu setelah Allah mengajarkannya. Begitulah sejarah asal-usul nabi Adam – manusia pertama di muka bumi – yang juga dipercaya sebagai nabi pertama dalam agama Islam, nabi mereka ialah orang-orang yang memiliki kepercayaan yang sama tentang ketundukkan mereka pada Allah.

Sejarah Asal Usul Batu Hajar Aswad

Sejarah Asal Usul Batu Hajar Aswad bermula ketika nabi Ibrahim (Abraham) dan anaknya sedang membangun Ka’bah, dimana pada masa itu banyak sekali komponen-komponen yang tidak terpenuhi. Ka’bah waktu itu belum memiliki atap maupun pintu, jadi Ibrahim dan Ismail berusaha keras untuk membawa bebatuan dari beberapa gunung yang ada untuk menyelesaikan konstruksi bangunan tersebut. Hajar Aswad sendiri menjadi sebuah hal penting ketika umat Islam sedang melakukan perjalan Haji, dimana tawaf dimulai dan diakhiri saat para umat yang sedang berhaji menatap batu ini. Selama bertahun-tahun, tak terhitung lagi jumlah orang termasuk nabi Muhammad, para sahabat, dan jutaan umat Muslim yang mencium batu ini ketika mereka sedang melakukan perjalanan Haji.
Sejarah Asal Usul Batu Hajar Aswad
Menguak Sejarah Hajar Aswad dan Hubungannya dengan Ka’bah
Asal Usul batu Hajar Aswad tidak bisa lepas dari sejarah Ka’bah itu sendiri. Pembangunan Ka’bah, menurut al-Qur’an pada surat al-Baqarah ayat 127 dilakukan oleh Ibrahim dan anaknya, Ismail. Diceritakan bahwa Allah telah menunjukkan pada Ibrahim dimana mereka harus melakukan pembangunan, yaitu tempat yang amat dekat dengan sumur Zamzam, akhirnya Ibrahim dan Ismail mulai mengerjakan konstruksi Ka’bah kira-kira pada tahun 2130 sebelum masehi. Ketika pembangunan ini tengah berlangsung, Ibrahim menyadari bahwa amat banyak komponen-komponen Ka’bah yang tidak mampu dibuat karena kurangnya bahan, sehingga akhirnya ia dan Ismail pergi menyusuri beberapa gunung untuk membawa bebatuan dengan tujuan menyelesaikan konstruksi Ka’bah tersebut.
Bahkan setelah seluruh bagian Ka’bah selesai dibangun, Ibrahim masih merasa bahwa ada satu bagian penting yang hilang. Ada salah satu sumber yang mengatakan bahwa Ibrahim memerintahkan Ismail untuk mencarikan satu batu lagi yang dapat memberi “sinyal” kepada umat manusia. Mendengar hal ini, Ismail pergi dari satu bukit ke bukit yang lain hanya demi mencari batu yang bisa menjadi suar dan memberi tanda kepada seluruh umat manusia, dan pada saat inilah, malaikat Jibril diutus Allah untuk membawakan sebuah batu yang konon katanya dulunya berwarna putih dan memberikannya kepada Ismail. Mendapati batu putih yang indah tersebut, Ismail pulang dan alangkah bahagianya Ibrahim melihat batu yang ia bawa. Ismail kemudian menjawab pertanyaan Ibrahim tentang lokasi batu ini dengan jawaban “aku menerima ini dari seseorang yang tidak akan membebani anak cucuku maupun anak cucumu (Jibril)” kemudian Ibrahim mencium batu tersebut, dan gerakan tersebut kemudian diikuti oleh Ismail.
Sejarah Asal Usul batu Hajar Aswad kembali berlanjut setelah batu diletakkan oleh Ibrahim di sudut timur Ka’bah. Tepat setelah melakukan hal itu, Ibrahim mendapat wahyu dimana Allah memerintahkannya untuk pergi dan memproklamirkan bahwa umat manusia harus melakukan ziarah agar Arabia bisa didatangi oleh orang-orang dari tempat yang jauh. Beberapa peneliti percaya bahwa Ka’bah benar dibangun pada tahun 2130 sebelum masehi. Penanggalan ini dinilai konsisten dengan kepercayaan umat Muslim bahwa Ka’bah merupakan masjid pertama dan tertua dalam sejarah. Menurut literatur kaum Samaritan, dalam buku yang berjudul Secrets of Moses tertulis bahwa Ismail dan anak tertuanya, Nebaioth adalah orang yang membangun Ka’bah dan juga kota Mekah. Buku ini dipercaya telah ditulis pada abad ke-10, sementara ada pendapat lain yang menganggap buku ini ditulis pada paruh kedua abad ke-3 sebelum masehi.
Hajar Aswad sendiri sebenarnya sudah menjadi sesuatu yang dihormati bahkan sebelum dakwah tentang Islam oleh Muhammad. Ketika era Muhammad tiba, batu ini juga sudah diasosiasikan dengan Ka’bah. Karen Armstrong dalam bukunya yang berjudul Islam: A Short History, menuliskan bahwa Ka’bah didedikasikan kepada Hubal, salah satu dewa dalam kepercayaan Nabatea, dan di dalamnya ada 365 berhala yang tiap-tiapnya merepresentasikan satu hari dalam satu tahun. Menurut Ibnu Ishaq yang merupakan biografer Muhammad di era awal, Ka’bah sendiri dianggap sebagai dewi, tiga generasi sebelum Islam muncul. Kultur semitik Timur Tengah juga memiliki tradisi untuk menggunakan batu-batu asing sebagai penanda tempat penyembahan, sebuah fenomena yang tertulis baik di Injil Yahudi maupun Qur’an.
Pada era Nabi Muhammad SAW, sejarah batu Hajar Aswad menjadi penting saat beberapa klan di Mekah berkelahi untuk menentukan siapa yang pantas meletakkan Hajar Aswad kembali ke Ka’bah setelah renovasi akibat kebakaran besar. Setelah sebelumnya hampir terjadi perang, para tetua klan mulai menyetujui usulan bahwa mereka harus bertanya kepada orang berikutnya yang melewati gerbang Ka’bah, dan kebetulan orang itu adalah Muhammad yang masih berusia 35 tahun. Setelah mendengar pokok permasalahan, Muhammad meminta para pemimpin klan untuk membawakannya sebuah kain, yang kemudian ia gunakan untuk meletakkan Hajar Aswad di bagian tengah kain tersebut. Setelah diletakkan, Muhammad meminta setiap ketua klan untuk memegang sisi ujung dari kain tersebut, mengangkatnya, dan membawanya ke posisi yang tepat untuk meletakkan Hajar Aswad. Setelah tiba di tempatnya, Muhammad sendiri yang mengambil dan meletakkan Hajar Aswad di posisi yang seharusnya, dan hal ini berhasil menggagalkan perang yang mungkin terjadi di antara klan-klan Mekah tadi.
Sejarah mengenai batu Hajar Aswad terus berlanjut tapi sebelumnya ia sempat mengalami beberapa kerusakan yang signifikan. Batu ini juga diceritakan pernah pecah oleh batu yang ditembakkan oleh katapel saat terjadi penyerangan Mekah oleh Umayyad. Fragmen-fragmen batu yang pecah itu kemudian disatukan kembali oleh Abdullah Ibnu Zubayr menggunakan perak. Pada tahun 930, batu tersebut dicuri oleh kaum Qarmati hingga ke tempat yang sekarang bernama Bahrain. Kini, batu ini menjadi bagian penting dalam upacara keagamaan umat Islam, yaitu ketika mereka melaksanakan haji.
Sekian artikel singkat mengenai asal usul batu hajar aswad, semoga menjadi pengetahuan baru untuk anda semua. Terima kasih telah mengunjungi halaman kami Kumpulan Sejarah.

Sejarah Berdirinya Negara Palestina

Negara Palestina yang menyatakan kemerdekaannya pada tanggal 15 November 1988 ini memiliki sebuah kisah menarik di dalamnya. Yang pertama kali mendeklarasikan kemerdekaan negara ini adalah Organisasi Liberasi Palestina (PLO) di Algiers yang saat itu bertindak sebagai government-in-exile, sebutan bagi sebuah kelompok politik yang mengklaim diri mereka sebagai pemerintahan yang legit tapi tidak mampu menggunakan kekuatan mereka dan malah tinggal di negara lain. Daerah yang diklaim sebagai bagian dari negara Palestina ini adalah daerah Tepi barat dan Jalur Gaza, sementara Yerusalem ditentukan sebagai ibu kotanya. Meski begitu, sejak tahun 1967 hampir seluruh daerah yang diklaim oleh Palestina kini diduduki oleh tentara Israel sebagai hasil dari perang Enam Hari yang terjadi pada tanggal 5 hingga 10 Juni di tahun tersebut.
Sejarah Berdirinya Negara Palestina
Sejarah Palestina Sebelum Era Modern
Sejarah berdirinya negara Palestina dimulai sejak periode purwa-Kanaan. Hal ini diperkuat dengan sebuah fosil manusia berumur lebih dari 1,5 juta tahun yang lalu pada era Pleistocene. Penemuan fosil tersebut ditemukan di Ubeidiya yang berjarak 3 km dari selatan Laut Galilee. Fosil ini diperkirakan merupakan bukti pertama tentang migrasi awal dari Homo erectus keluar dari Afrika. Pada tahun 1925 di sebuah goa bernama Goa Zuttiyeh juga ditemukan sisa-sisa makhluk hidup yang kemudian diberi nama “Manusia Palestina”. Di daerah selatan Nazareth, pada sebuah situs paleoanthropologis ditemukan 11 tengkorak Homo sapien yang telah menjadi fosil pada sebuah batu. Fosil yang kemudian setelah diteliti memiliki anatomi manusia modern tersebut ternyata berumur sekitar 90.000 hingga 100.000 tahun, dan banyak dari sisa tulangnya diwarnai menggunakan ochre merah yang biasa digunakan dalam proses penguburan.
Setelah periode purwa-Kanaan berlalu dan melewati dua fase masa perunggu, sejarah berdirinya negara Palestina berlanjut dengan periode Kerajaan Mesir Baru sekitar tahun 1550 hingga 1400 sebelum masehi dimana kota-kota Kanaan kini menjadi bagian dari kerajaan Mesir Baru yang melakukan ekspansi besar-besaran menuju daerah Levant dibawah Ahmose I dan Thutmose I. Seluruh urusan politik, komersil, dan militer yang ada di bagian akhir era ini dicatat oleh beberapa ambassador dan pemimpin proksi Kanaan untuk Mesir pada tahun 379 dengan menggunakan tablet yang dikenal dengan nama Surat-surat Amarna. Pada masa pemerintahan pertama dari pharaoh Seti I, beliau menjalankan sebuah misi untuk mengordinasi ulang Kanaan yang kini menjadi dalam aturan mesir hingga daerah Sabuk Shean dan memasang beberapa pemerintahan boneka untuk mengatur daerah tersebut. Pada tahun 1178 sebelum masehi, Ramesses III mengibarkan bendera perang melawan Sea People yang diberi nama Perang Djahy (Kanaan), dimana perang ini menjadi awal dari hilangnya kekuatan Kerajaan Baru Mesir di Levant, dan di saat yang sama merupakan runtuhnya era Perunggu.
Sejarah berdirinya negara Palestina kembali berlanjut menuju era Kerajaan Hellenik dengan penundukannya pada tahun 330 sebelum masehi oleh Alexander Agung setelah sebelumnya berhasil bertahan melalui periode independen Israelite, Philistine, dan Canaanite, periode di bawah pemerintahan kerajaan Neo-Syria dan Neo-Babilon, dan kerajaan Persia (Achaemenid). Pada tahun 323 hingga 301 sebelum masehi, tanah Palestina berulang kali diperintah oleh orang yang berbeda akibat perang Diadochi. Adapula pemimpin-pemimpin yang tertulis dalam sejarah berdirinya negara Palestina di masa itu termasuk Laomedon, Ptolemy I Soter, dan Antigonus I Monophthalmus. Pada tahun 321 sebelum masehi, Ptolemy I Soter membunuh anak dari Antigonus I dalam Perang Gaza, yaitu Demetrius I. Banyaknya angka perang yang terjadi pada era ini membuatah lanskapnya berubah-ubah dalam waktu yang ekstrim dengan perpindahan kekuatan yang sangat cepat terjadi. Hal lainnya yang terjadi adalah mulai banyak kota-kota berbenteng yang dibangun dengan alasan untuk menghalau pasukan musuh.
Negara Palestina di Era Modern
Era kerajaan Romawi yang mencatatkan bagian lain dalam sejarah berdirinya negara Palestina berlangsung selama 3 periode yaitu Romawi Iudea pada tahun 63 sebelum masehi yang kemudian dilanjutkan oleh periode Romawi Syria Palestina pada tahun 132 sebelum masehi, dan berakhir di sekitar tahun 630-an karena kekalahan pasukan Romawi dalam beberapa perang besar. Kekalahan pasukan Romawi juga membuka gerbang bagi masuknya kekhalifahan Muslim yang dipimpin oleh Rashidun dan Umayyad hingga tahun 968 sebelum akhirnya Kekhalifahan Fatimid menyerang. Kekhalifahan Fatimid hanya mampu bertahan hingga tahun 1054 dan mulai runtuh karena serangan dari para crusader saat Perang Salib.
Sejarah berdirinya negara Palestina moderen dimulai dari tahun 1516 ketika Ottoman Turki menduduki Palestina dan Istanbul ditunjuk sebagai pemerintah lokalnya. Kekuasaan akan Palestina terancam ketika Napoleon memulai perang di tahun 7 Maret hingga Juli tahun 1799. Penyerangan ini gagal dan berakhir saat Napoleon dibunuh oleh adiknya yang bekerja sama dengan Ottoman. Pada tanggal 10 Mei 1832, daerah Syria Ottoman dikuasai oleh ekspansionis Mesir di bawah pimpinan Muhammad Ali dalam perang Mesir-Ottoman di tahun 1831, meski begitu pihak Ottoman kembali melawan dan baru kalah ketika mereka bergabung dengan Kekaisaran Jerman dalam Perang Dunia I.
Dimulai dari sekitar tahun 2000-an, pihak Palestina yang daerahnya mulai diklaim oleh Israel mulai memberontak dan serangan pertama mereka dikenal sebagai Al-Aqsa Intifada. Pada tahun 2002, sebuah resolusi untuk pengakhiran konflik Israel-Palestina diajukan oleh Amerika, Uni Eropa, Rusia, dan PBB. Pada tahun 2004 juga George W. Bush meminta bahwa sebuah negara Palestina bisa hidup berdampingan dengan Israel. Pada tahun 2005, pasukan milisi Palestina mulai menembakkan roket Qassam ke arah Israel. Perang yang tak kunjung henti antara Palestina dan Israel ini menjadi bagian kelam dalam sejarah berdirinya negara Palestina.
Gereja di Indonesia terbagi dua, yaitu gereja Katolik dan gereja Kristen. Gereja Kristen di Indonesia, terlepas dari fakta bahwa Kristen sendiri merupakan agama minoritas, diperkirakan dimulai pada abad ke-12, dimana kaum Kristen Mesir mencatat bahwa ada beberapa gereja Kristen yang didirikan di Barus, daerah pantai barat Sumatra Utara yang merupakan sebuah pos perdagangan yang sering didatangi oleh saudagar India dan karena hal itu dikaitkan dengan Saint Thomas Christian yang ada di India. Meski begitu, tak ada bukti bahwa Kristen pernah tiba sebelum datangnya saudagar Portugis di abad ke-16. Untuk gereja Katolik, mulai muncul juga ketika pada awal abad ke-14, lewat misi Katolik Roma untuk mencapai Indonesia yang dipimpin oleh Mattiussi yang mengunjungi Sumatra, Jawa, dan Banjarmasin.
Sejarah Keberadaan Gereja di Indonesia - Tempat Ibadah Umat Kristen
Awal Perkembangan Gereja di Indonesia
Sejarah munculnya gereja di Indonesia dari sisi Kristen dimulai ketika orang-orang Portugis tiba di Kesultanan Malaka yang kini menjadi Malaysia pada tahun 1509 demi mencari kekayaan yang mereka punya. Awalnya, hubungan mereka berjalan baik hingga terjadi penundukkan Goa dan beberapa konflik antara Muslim dan Kristen yang menyebabkan kaum-kaum Muslim di Malaka berpendapat bahwa kedatangan Kristen Portugis hanya akan membawa masalah bagi mereka. Yang memperparah kejadian ini adalah penundukan Malaka, dimana kejadian tadi dinilai menjadi titik balik yang membuat seluruh umat Muslim Malaka menciptakan suatu sentimen yang melawan Kristen Portugis. Perlawanan juga muncul dari umat Muslim di Aceh, dan juga kekaisaran Ottoman. Meskipun pihak Portugis berhasil membangun beberapa gereja, kedatangan mereka di Malaka lebih dinilai sebagai kesan negatif dibandingkan tujuan awal mereka untuk mempromosikan agama tersebut.
Di sisi Katolik, Mattiussi yang merupakan seorang biksu Italia mengaku bahwa ia ditugaskan oleh sang Paus untuk berlayar dari Padua menuju Sumatra sebelum akhirnya tiba di Jawa dan Banjarmasin. Misi ini dimulai pada tahun 1318, dan diakhiri dengan kepulangannya melalui darat melintasi Tiongkok, Vietnam, serta Eropa ditahun 1330. Di catatan yang ia buat, tertulis juga sebuah kerajaan Jawa yang memiliki corak Hindu-Buddha, seperti pada Majapahit. Misi tersebut dinilai sebagai misi pionir, dimana karena misi ini gereja Katolik bisa memiliki Informasi tentang kondisi Asia, dimana pada waktu itu belum ada sama sekali pengaruh agama Katolik di benua tersebut.
Ketika terjadi pendudukan Malaka pada tahun 1511 oleh pihak Portugis, misionaris Katolik juga seketika tiba di daerah itu. Salah satu dari yang paling terkenal dan penting dalam perkembangan sejarah gereja di Indonesia adalah Francis Xavier. Ketika orang-orang Portugis diusir keluar Ternate pada tahun 1574, banyak umat Katolik di daerah tersebut yang dibunuh atau secara paksa diubah keyakinannya menjadi Islam. Pada tahun 1605, orang-orang Katolik yang masih tersisa dipaksa lagi untuk menganut ajaran baru, yaitu Protestan. Baru pada tahun 1808 dibawah pimpinan Daendels, umat Katolik diberikan kebebasan untuk menganut agama mereka sendiri.
Kembali menelusuri sejarah gereja Kristen adalah ketika pada tahun 1972, seorang asli Bali yang bernama I Wayan Mastra memeluk agama Kristen ketika ia sedang bersekolah di sekolah Kristen di pulau Jawa. Ia kemudian menjadi ketua GKPB dan memulai proses Balinisasi, dimana ia mencoba membuat gereja-gereja Kristen di Bali menjadi lebih terbuka akan budaya-budaya Bali, mengikuti gereja Katolik Bali yang sudah terlebih dahulu melakukan hal seperti itu.
Sejarah gereja di Indonesia terutama gereja Katolik kembali mengalami perubahan ketika pada tahun 1896, seorang pendeta dari Belanda yang bernama Frans van Lith datang ke Muntilan, Jawa Tengah. Awalnya, apapun yang ia coba tidak berakhir baik namun akhirnya pada tahun 1904 ada 4 pemuka kota yang berasal dari Kalibawang datang ke rumahnya dan meminta pengajaran tentang agama yang ia bawa. Pada tanggal 15 Desember di tahun yang sama, 178 masyarakat Jawa akhirnya dibaptis di daerah Semagun. Selain itu, Van Lith juga mendirikan sekolah untuk guru di Muntilan dimana sekolah ini diberi nama Normaalschool pada tahun 1900 dan berubah menjadi Kweekschool pada 1904. Pada tahun 1911, Van Lith kembali mendirikan Seminari Menengah yang berhasil mencetak orang-orang penting di sejarah Katolik Indonesia yaitu FX Satiman SJ, Albertus Soegijapranata SJ, dan Adrianus Djajasepoetra SJ.
Gereja Kristen sendiri, meskipun agamanya tetap menjadi minoritas di berbagai daerah, tidak berhenti menyebarkan ajarannya. Sehingga pada tahun enampuluhan, banyak penganut komunisme dan masyarakat Tiongkok yang beralih ke Kristen karena adanya jargon anti-komunis dan anti-Confucian. Pada masa-masa ini juga mulai banyak dibuat sekolah-sekolah Kristen yang mengajarkan tentang agama tersebut. Hingga saat ini, Gereja Kristen masih terus berusaha untuk berkembang lebih pesat dari perkembangannya sebelumnya.
Uskup pertama di gereja Katolik Indonesia adalah Albertus Soegijapranata SJ yang diangkat pada tahun 1940. Delapan tahun berikutnya pada di 20 Desember, dua penganut bernama Sandjaja serta Hermanus Bouwens dibunuh di sebuah desa yang bernama Kembaran, dimana akhirnya Sandjaja dinilai adalah martir dari gereja Katolik di Indonesia. Beberapa pahlawan Indonesia yang terkenal juga merupakan seorang penganut Katolik seperti Agustinus Adisoetjipto, Ignatius Slamet Riyadi, dan Yos Soedarso. Mungkin fakta-fakta ini juga lah yang membuat sejarah gereja di Indonesia, terutama gereja Katolik berkembang dengan sangat pesat. Meski begitu, pada tahun 1990-an dan awal tahun 2000 terjadi sebuah kerusuhan yang menargetkan para penganut Katolik dan Kristen. Untungnya pada saat itu, Abdurrahman Wahid yang menjadi pemimpin Nahdatul Ulama mampu menekan antipati yang ada diantara pihak dengan agama yang berbeda-beda itu.
Pada sekitar abad ke-7 hingga ke-11, terjadi beberapa seri perang yang melibatkan Muslim Arab dengan kerajaan Romawi Timur atau yang disebut juga dengan kerajaan Byzantine. Peperangan besar ini terjadi ketika ekspedisi Muslim yang ada di bawah pimpinan Rashidun dan kekhalifahan Umayyad baru saja dimulai pada awal abad ke-7, dan dilanjutkan oleh penerusnya hingga pertengahan abad ke-11. Salah satu perang ini merupakan perang besar yang dikenal dengan nama perang Mu’tah. Sejarah perang Mu’tah – 3.000 pasukan Muslim melawan 200.000 pasukan Romawi sendiri dimulai pada tahun 8 Hijriah (sekitar tahun 629 Masehi) di sebuah desa di Mu’tah, bagian timur dari sungai Jordan dan Karak.
Sejarah Perang Mu’tah – 3.000 Pasukan Muslim Melawan 200.000 Pasukan Romawi
Linimasa Perang Mu’tah
Sejarah perang Mu’tah – 3.000 pasukan Muslim melawan 200.000 pasukan Romawi tidak akan dimulai tanpa sebelumnya ada sesuatu yang lebih besar, yaitu perselisihan antara pihak Byzantine dengan Muslim. Hal ini disebabkan oleh ledakan penduduk Arab dari Arab Peninsula pada tahun 630-an yang menyebabkan hilangnya sebagian besar area jajahan Byzantine di bagian selatan yaitu Syria dan Mesir yang berhasil direbut umat Muslim. Dalam rentang waktu 50 tahun, pasukan Muslim yang ada di bawah kekhalifan Umayyad yang agresif tak henti meluncurkan serangan berulang ke area Asia Minor yang saat itu menjadi daerah kekuasaan kerajaan Byzantine. Selain serangan, dua kali ancaman untuk penundukkan Konstantinopel juga dilayangkan.
Latar belakang perang Mu’tah sendiri terjadi ketika perjanjian Hudaybiyyah mengatur gencatan senjata antara kaum Quraish dan tentara yang mengatur kekuatan di Mekah. Badhan, pemerintah Sassani dari Yemen sudah mulai masuk Islam, begitu juga kaum-kaum yang ada di Arab Selatan, meningkatkan kekuatan militer di Madinah. Karena hal ini, Muhammad menjadi sedikit lebih bebas dan bisa fokus terhadap suku Arab yang ada di utara, yaitu Bilad al-Sham. Salah satu sejarawan Islam menyatakan bahwa pergerakan militer ke utara adalah karena perlakuan yang buruk pihak utara kepada utusan yang dikirim Muhammad, dimana utusan tersebut dibunuh. Yang menyebabkan kerajaan Byzantine ikut campur adalah karena kaum Bani Sulaym dan Dhat al Taih merupakan kaum yang ada dalam perlindungan Byzantine.
Sejarah perang Mu’tah – 3.000 pasukan Muslim melawan 200.000 pasukan Romawi dimulai ketika pada awal tahun 8 Hijriah (sekitar tahun 629 Masehi), Muhammad menggerakkan pasukannya menuju area Jumada al-Awwal untuk ekspedisi singkat dengan tujuan menyerang dan menghukum kaum yang membunuh utusannya. Pemimpin pasukan ini ialah Zayd ibnu Haritha, dengan Jafar ibnu Abi Talib dan Abdullah ibnu Rawahah tepat di bawahnya. Pemimpin Ghassanid dipercaya telah mengetahui tentang serangan yang direncanakan oleh Muhammad ini, sehingga ia mulai menyiapkan pasukannya dan meminta bantuan dari Byzantine. Ada dua versi tentang siapa yang memimpin pasukan besar dari Romawi ini, dimana salah satu versi mengatakan bahwa pemimpinnya adalah Heraclius langsung, dan versi lain adalah adik dari Heraclius, yaitu Theodorus.
Ketika pasukan Muslim tiba di area timur Jordan dan mengetahui ukuran tentara yang dibawa oleh pasukan Byzantine, mereka menjadi takut. Mayoritas dari mereka ingin menunggu sebentar dan menunggu bantuan dari Madinah datang, tapi kemudian Abdullah ibnu Rawahah mengingatkan mereka tentang keinginan jihad, dan mempertanyakan apakah baik jika mereka menunggu sedangkan apa yang mereka inginkan ada di depan mereka. Mendengar pernyataan dari Abdullah tersebut, hati para pasukan tergerak, dan segala keraguan yang menghantui mereka beberapa saat lalu mendadak hilang sehingga mereka berani untuk terus maju ke medan perang melawan pasukan yang jumlahnya hampir 67 kali jumlah mereka sendiri.
Pertikaian pertama antara pihak Muslim dan Byzantine yang membuka sejarah perang Mu’tah – 3.000 pasukan Muslim melawan 200.000 pasukan Romawi – terjadi di kamp mereka sendiri, di desa Musharif dimana mereka kemudian mundur ke Mu’tah. Baru di Mu’tah lah perang besar terjadi. Beberapa sumber Muslim mengatakan bahwa perang yang terjadi ini mengambil tempat di antara dua lembah dengan tinggi yang berbeda, dimana hal itu menetralkan superioritas jumlah yang dimiliki tentara Byzantine. Dalam perang ini, ketiga pemimpin pasukan Muslim tumbang satu persatu dimulai dari Zayd ibnu Haritha yang disusul oleh Jafar ibn Abi Talib dan Abdullah ibnu Rawahah setelahnya. Al-Bukhari melaporkan bahwa di bagian depan tubuh Jafar terdapat 50 luka tusuk. Melihat semangat tentara Muslim yang mulai menciut, Thabit ibnu Al-Arqam mengambil alih komando dan menyelamatkan pasukannya dari kehancuran total. Setelah perang selesai, para pasukan meminta Thabit menjadi pemimpin mereka yang ia tolak, dimana ia kemudian meminta Khalid ibnu al-Walid untuk memimpin.
Ketika perang, Khalid dilaporkan menggunakan 9 pedang yang seluruhnya rusak karena peperangan lanjutan yang terjadi sangatlah intens. Pada akhirnya, Khalid melihat bahwa situasi mereka sangat terdesak dan mulai bersiap untuk mundur. Ia terus mengonfrontasi Byzantine dalam pertikaian kecil, tapi menghindari pertikaian besar. Suatu malam, Khalid mengganti posisi pasukannya dan membawa rearguard yang telah dipasangkan bendera baru. Hal ini untuk membuat impresi bahwa ada pasukan tambahan yang dikirim dari Madinah. Khalid juga memerintahkan kepada para kavaleri untuk mundur ke belakang bukit pada malam hari agar gerakan mereka tidak diketahui oleh pihak Byzantine, dan kembali pada siang hari sambil menaikkan jumlah debu yang bisa mereka kumpulkan sebanyak mungkin. Hal ini menjadi bagian penutup sejarah perang Mu’tah – 3.000 pasukan Muslim melawan 200.000 pasukan Romawi – dimana pihak Byzantine percaya akan adanya pasukan yang menolong dari Madinah, dan memutuskan untuk mundur.

Menara Eiffel

Sejarah Pembangunan Menara Eiffel

Eiffel adalah salah satu bangunan paling terkenal di Paris, Prancis. Bahkan sejak dibangun pertama kali pada tahun 1889, menara ini telah dikunjungi setidaknya 200 juta orang dari berbagai belahan dunia. Pada tahun 2006 saja ada lebih dari 6 juta orang rela datang jauh-jauh untuk melihat struktur beton yang memiliki tinggi 325 meter ini.
Eiffel memiliki sejarah yang sangat panjang dalam pembangunannya hingga selesai. Berbagai masalah pernah terjadi di menara yang saat ini digunakan sebagai pemancar radio dan juga pengamatan. Meski demikian, Menara Eiffel justru bertransformasi menjadi ikon romantis dunia. Tak sedikit film, cerita fiksi, dan pagelaran penuh cinta diadakan di sini. Mari mengenal Menara Eiffel dalam dengan mengenal sejarahnya di bawah ini.
Sejarah Pembangunan Menara Eiffel
Sejarah Pembangunan Menara Eiffel
Ide dan Rencana Pembuatan Menara Eiffel
Kita semua mengenal Gustav Eiffel sebagai orang di balik megahnya menara hebat ini. Bahkan nama dari menara pun mencatut nama dari perancangnya ini. Awalnya Gustav justru ingin membangun menara di Barcelona. Sayangnya rencana yang ia tawarkan dianggap sangat aneh dan bangunannya tak sesuai. Selain itu, menara juga dianggap mengeluarkan biaya yang terlalu mahal. Akhirnya ia urung membuat menara jenis apa pun di sekitar Eropa.
Ide pembuatan Menara Eiffel akhirnya muncul dari dua anak buah Gustav bernama Maurice Koechlin dan Emile Nouguier. Ia sama sekali tidak tertarik pada awalnya. Namun begitu melihat rencana itu berjalan dengan lancar, Gustav mulai mengambil alih. Ia pun membeli hak paten dari menara ini hingga sekarang dikenal sebagai Menara Eiffel yang sangat megah dan dikenal banyak orang.
Misi Pembangunan Menara Eiffel
Menara ini awalnya dibangun untuk pameran dunia. Pihak pengembang ingin menjadikan menara ini sebagai tanda seratus tahun Revolusi Prancis. Menara ini adalah simbol kekuatan dari Prancis yang sangat luar biasa. Di tengah keterpurukan Eropa di abad ke-18 mereka mampu berjuang dan membuat sebuah revolusi yang sangat besar. Bahkan berpengaruh ke banyak negara di dunia.
Gustav Eiffel mengatakan jika menara ini juga merupakan simbol ilmu pengetahuan modern. Simbol perkembangan ilmu pengetahuan dunia dari masa ke masa. Menara ini adalah tanda di mana sains hidup bersama manusia. Itulah mengapa di bangunan ini terdapat sekitar 72 nama dari para ilmuwan dan insinyur yang sangat terkenal di Prancis.
Pembangunan Struktur dan Bentuk Menara Eiffel
Pembangunan struktur dari Menara Eiffel dimulai pada tahun awal 1889 dan baru dibuka untuk umum pada 6 Mei 1889. Dalam pembangunannya menara, sekitar 300 pekerja dilibatkan untuk mengatur struktur dengan total berat mencapai 10.000 ton. Para pekerja harus berjuang dengan kuat untuk mengatur 18.038 potongan besi tempa dan sekitar 2,5 juta paku keling. Setelah berkutat selama berbulan-bulan, bangunan ini selesai dengan ketinggian dari tanah mencapai 300 meter. Lalu ditambah dengan antena menjadi 324 meter.
Bentuk Menara Eiffel awalnya mendapatkan banyak kritikan. Terlebih strukturnya disusun dengan bentuk yang tidak memiliki nilai seni. Bahkan mirip struktur jembatan yang berada di sungai. Gustav Eiffel mengatakan jika bentuk ini dibuat sesuai dengan perhitungan matematika. Tiupan angin di udara pun diperhitungkan agar menara tidak akan roboh meski dibuat sangat tinggi menjulang.
Pembukaan Menara Eiffel dan Efeknya Bagi Penduduk
Menara Eiffel dibuka pertama kali pada Mei 1889. Saat itu menara sudah dilengkapi dengan lift yang akan membawa pengunjung dari bawah menuju puncak. Hal ini mengundang banyak sekali wisatawan dari berbagai wilayah Prancis. Bahkan ada juga yang datang jauh-jauh dari negara sekitar hanya untuk melihat Kota Paris dari ketinggian yang fantastis. Di zaman itu berada di ketinggian 300 meter adalah hal yang luar biasa.
Meski menjadi daya tarik yang sangat kuat bagi sebagian orang, protes terhadap pembangunan menara ini kerap dilakukan. Banyak warga sekitar merasa tidak senang dengan menara ini. Pertama karena takut jika sewaktu-waktu bangunan ini ambruk mereka bisa menjadi korban. Lalu yang kedua karena merusak pemandangan. Struktur megah ini menghalangi banyak hal di udara.
Hal senada juga diungkapkan oleh para seniman lukis di kota ini. Mereka menganggap jika menara ini hanya membuat objek yang mereka gambar jadi hilang. Namun seiring berkembangnya waktu justru Menara Eiffellah yang menjadi objek gambar mereka. Terlebih lagi banyak wisatawan yang datang akan meningkatkan penjualan lukisan mereka.
Fungsi Menara Eiffel di Era Modern
Meski awalnya hanya digunakan untuk peringatan satu abad Revolusi Prancis, menara ini sekarang telah menjelma menjadi salah satu menara paling dikagumi di dunia. Bahkan Eiffel adalah Prancis itu sendiri. Saat ini Menara Eiffel dikenal sebagai objek wisata paling banyak dikunjungi di dunia. Dalam setahun lebih dari 3 juta orang datang ke sini untuk menikmati menara buatan Gustav Eiffel.
Saat ini Menara Eiffel digunakan untuk menara pemancar radio. Banyak sekali stasiun berita lokal menggunakan menara ini untuk bisa menjangkau semua pendengarnya seantero Paris. Selain itu, Menara Eiffel juga digunakan untuk pengamatan, baik cuaca maupun penerbangan yang ada di Prancis. Saat ada even tertentu seperti Natal, tahun baru, atau olimpiade, menara ini akan dihiasi dengan banyak sekali lampu. Saat malam hari menara ini akan bersinar dengan indah.
Menara Eiffel begitu dicintai oleh masyarakat Prancis. Mereka menganggap menara ini adalah menara keberuntungan. Jika tidak ada Menara Eiffel mungkin tak banyak wisatawan akan datang ke negeri ini.
Demikianlah uraian singkat sejarah pembangunan Menara Eiffel. Semoga bermanfaat bagi Anda semuanya.

Patung Liberty

Rancangan Awal Patung Liberty
Membahas sejarah pembangunan Patung Liberty tidak bisa dipisahkan dari sang pembuatnya yang sangat fenomenal. Dia bernama Frederic Auguste Bartholdi dan merupakan warga negara Prancis. Sejak kecil, Bartholdi sangat menyukai dunia seni, ia sempat menjalani profesi pelukis di usianya yang masih sangat muda. Untuk mengekspresikan jiwa seninya yang berapi-api, ia berhasil membuat banyak sekali patung. Salah satu hasil kerja keras dari Bartholdi dikerjakannya saat berusia 18 tahun.
Saat beranjak dewasa, ia ikut Perang Franco-Prussian. Dalam perang ini ia mendapatkan gagasan untuk membuat patung bertema kebebasan. Akhirnya ide untuk membuat Patung Liberty tercipta. Lokasi awal yang akan digunakan untuk tempat berdirinya pun bukan Amerika. Bartholdi yang saat itu menjelajah Mesir dan melihat Sphinx bermimpi akan mendirikan patung termegahnya di Terusan Suez.
Pengumpulan Dana yang Sangat Berat
Pengumpulan dana untuk Patung Liberty sangatlah sulit. Bahkan bisa dibilang merupakan proyek yang sangat mustahil. Bartholdi berusaha dengan kekuatannya sendiri untuk memengaruhi banyak orang di Prancis. Ia bergerak dari satu kantor ke kantor yang lain untuk mengumpulkan uang sekecil apa pun itu. Kritik pedas yang dilontarkan oleh banyak orang di Prancis.
Meski demikian ia tetap menjalankan misi besarnya ini. Ia meminta banyak sekali sumbangan, hingga akhirnya terkumpul sekitar 250.000 Franc (setara $750.000) di tahun 1879. Dari sini ia mulai membangun banyak bagian dari patung karena telah mendapatkan dana yang cukup banyak.
Pembuatan Patung Liberty
Patung Liberty dibuat di Prancis pada tahun 1876. Bartholi menggunakan segala kemampuannya untuk membuat patung hebat ini. Desain dasar dari patung dibuat dari metal-metal produksi Gustav Eiffel yang telah berhasil membuat Menara Eiffel berdiri tegak. Dari metal-metal kuat ini, Bartholdi mulai melapisi beberapa bagiannya dengan batu dan mulai mengukirnya sesuai dengan desain yang telah dibuat.
Selama kurang lebih 8 tahun ia berjuang sendirian. Saat ada pameran ia ikut dan menunjukkan patungnya yang sudah nyaris jadi. Dari pameran ini ia mendapatkan banyak uang yang akan digunakan untuk menyelesaikan proyek yang sangat fenomenal ini. Akhirnya di tahun 1884, Patung Liberty yang merupakan simbol dari dari dewa kebebasan Libertas berhasil diselesaikan dengan sangat sempurna.
Penggalangan Dana di Amerika Serikat
Kebanyakan orang hanya mengetahui jika Patung Liberty diberikan oleh Prancis kepada Amerika sebagai hadiah. Pada prinsipnya memang nyaris benar. Patung ini dibuat oleh warga Prancis dan beberapa dananya dikumpulkan dari para donatur. Hal ini dilakukan karena pemerintah Prancis tidak menyetujui proyek ini hingga dana tak kunjung keluar. Terlebih lagi, patung ini memakan banyak sekali biaya.
Saat Patung Liberty akan selesai, Bartholdi ingin meminta orang di Amerika untuk membantunya. Terutama untuk penyelesaian dan juga pengiriman. Biaya yang dibutuhkan lumayan banyak, dan hal ini ditolak oleh pemerintah Amerika. Mereka tidak habis pikir kenapa hanya sekumpulan batuan saja bisa memiliki harga yang sangat mahal.
Akhirnya ada seorang jurnalis bernama Joseph Putlizer yang memiliki ide brilian. Ia menulis sebuah artikel yang memengaruhi warga di Amerika untuk menyumbang. Uniknya, setiap orang yang menyumbang, namanya akan tampil di dalam koran. Strategi ini berhasil dan mampu membuat Patung Liberty berlayar jauh dari Prancis ke Amerika.
Berdirinya Dewi Kebebasan di Tanah Amerika
Setelah setahun penggalangan dana, akhirnya pada tahun 1885 Patung Liberty dibawa dari Prancis menuju Amerika. Patung ini memiliki berat puluhan ribu ton hingga butuh waktu yang cukup lama untuk mengangkutnya. Di Amerika sendiri, penyambutan patung ini dilakukan dengan besar-besaran. Banyak warga New York yang rela membantu dalam proyek ini agar bisa segera melihat patung yang sangat megah tersebut.
Penyusunan Patung Liberty berjalan cukup lama. Dari mulai sampai hingga selesai disusun butuh waktu sekitar 6 bulan. Akhirnya pada 25 Oktober 1886 patung ini mampu berdiri dengan tegak. Bahkan, sehari setelahnya dideklarasikan sebagai hari libur nasional. Banyak orang dari berbagai penjuru Amerika menyaksikan Lady Liberty yang berdiri kokoh sebagai simbol kebebasan di Amerika.
Patung Liberty di Era Modern
Di era modern seperti sekarang, Patung Liberty sudah secara resmi menjadi tempat wisata andalan di Amerika, khususnya New York. Setiap tahun ada jutaan orang datang dari berbagai belahan dunia untuk menikmati kemegahan patung wanita yang merupakan simbol kebebasan di Amerika ini. Patung ini adalah bukti jika di masa lalu ada pria yang memiliki ambisi untuk mengabadikan sebuah kebebasan di tanah yang telah lama dijajah oleh bangsa Eropa.
Saat ini Patung Liberty banyak digunakan untuk aktivitas perayaan. Setiap tanggal 4 Juli (hari kemerdekaan Amerika), area ini akan penuh sesak dengan banyak orang yang ingin menyaksikan meriahnya kembang api. Saat tahun baru pun Patung Liberty juga menjadi latar perayaan yang sangat megah.
Demikianlah uraian singkat tentang sejarah pembuatan Patung Liberty yang sangat megah. Semoga bisa berguna untuk Anda semuanya.